Cara Pemeriksaan Borak, Formalin, Rhodamin – b , Dan Metil Yellow Pada Makanan Dan Minuman


Dosen              : Khiki Purnawati Kasim, S.ST., M.Kes
Mata Kuliah     : PMM-A (Penyehatan Makanan dan Minuman – A)

 Cara Pemeriksaan Borak, Formalin, Rhodamin – b , Dan Metil Yellow Pada Makanan Dan Minuman
                                                 
                                         
                                                  Disusun Oleh  :

Nama              : Nur Amaliah
Tingkat           : II.B / D.IV
NIM                : PO714221161050



KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Makanan adalah salah satu kebutuhan manusia.dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari makanan. Sebagai kebutuhan dasar , makanan tersebut harus mengandung zat gizi untuk dapat memenuhi fungsinya dan aman dikonsumsi karena makanan yang tidak aman dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan keracunan (Moehji, 1992).
Aneka produk makanan dan minuman yang berwarna-warni tampil semakin menarik. Warna-warni pewarna membuat aneka produk makanan mampu mengundang selera. bahan pewarna tampaknya sudah tidak bisa dipisahkan dari berbagai jenis makanan dan minuman olahan. Produsen pun berlomba-lomba untuk menarik perhatian para konsumen dengan menambahkan pewarna pada makanan dan minuman.Warna dari suatu produk makanan ataupun minuman merupakan salah satu ciri yang penting. Warna merupakan salah satu kriteria dasar untuk menentukan kualitas makanan, antara lain warna dapat memberi petunjuk mengenai perubahan kimia dalam makanan, seperti pencoklatan (deMan JM. 1997). Selain itu, beberapa warna spesifik dari buah juga dikaitkan dengan kematangan.
Bahan Tambahan Makanan (BTM) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan, antara lain bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 dijelaskan bahwa BTM adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai pangan dan biasanya bukan merupakan ingredien khas pangan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan kedalam pangan.  Tujuan penggunaan bahan tambahan makanan adalah untuk meningkatkan dan mempertahankan nilai gizi dan kualitas makanan.

Peranan bahan tambahan makanan menjadi semakin penting sejalan dengan kemajuan teknologi pangan. Meski memiliki manfaat yang besar, namun penggunaan bahan tambahan makanan perlu diwaspadai, baik produsen maupun konsumen. Bahan tambahan makanan dapat membawa dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Di bidang pangan kita memerlukan sesuatu yang lebih baik untuk masa yang akan datang, yaitu pangan yang aman untuk dikonsumsi, lebih bermutu, bergizi dan lebih mampu bersaing dengan pasar global. Kebijakan keamanan pangan (food safety), dan pembangunan gizi nasional (food nutrient) merupakan bagian integral dari kebijakan pangan nasional, termasuk penggunaan bahan tambahan makanan.
Dalam kehidupan sehari-hari BTM sudah digunakan secara umum oleh masyarakat. Kenyataannya masih banyak produsen makanan yang menggunakan bahan tambahan makanan yang berbahaya bagi kesehatan. Efek dari bahan tambahan beracun tidak dapat langsung dirasakan, tetapi secara perlahan dan pasti dapat menyebabkan penyakit. Penyimpangan atau pelanggaran mengenai penggunaan BTM yang sering dilakukan oleh produsen pangan, yaitu : 1) Menggunakan bahan tambahan yang dilarang penggunaannya untuk makanan; 2) Menggunakan BTM melebihi dosis yang diizinkan. Penggunaan bahan tambahan yang beracun atau BTM yang melebihi batas akan membehayakan kesehatan masyarakat, dan berbahaya bagi pertumbuhan generasi yang akan datang. Karena itu produsen pangan perlu mengetahui peraturan-peratun yang telah dikeluarkan oleh pemerintah mengenai penggunaan BTM. 
B.                Tujuan

1.      Untuk mengetahui cara pemeriksaan Boraks pada bakso !
2.      Untuk mengetahui cara pemeriksaan Formalin pada bakso !
3.      Untuk mengetahui cara pemeriksaan Rodamin B pada kerupuk !
4.      Untuk mengetahui cara pemeriksaan Metil Yellow pada !


BAB II
PEMBAHASAN
A.                Uraian Materi
1.      Boraks
Bahan kimia berbahaya lain yang sering digunakan pada produk olahan pangan adalah boraks. Boraks merupakan garam natrium Na2B4O7.10H2O serta asam borat yang tidak merupakan kategori bahan tambahan pangan food grade, biasanya digunakan dalam industri nonpangan seperti industri kertas, gelas, keramik, kayu, dan produk antiseptik toilet (Didinkaem, 2007). Di industri farmasi, boraks digunakan sebagai ramuan bahan baku obat seperti bedak, larutan kompres, obat oles mulut, semprot hidung, salep dan pencuci mata. Bahan industri tersebut tidak boleh diminum karena beracun (Winarno, 1997).
Asam boraks merupakan asam lemah dengan garam alkalinya  bersifat basa, mempunyai bobot molekul 61,83 berbentuk serbuk halus kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis. Baik boraks ataupun asam borat memiliki khasiat antiseptika (zat yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme). Pemakaiannya dalam obat biasanya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, bahkan juga untuk pencuci mata. Boraks juga digunakan sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu dan antiseptik kayu (Khamid, 2006).
Asam borat dapat dibuat dengan menambahkan asam sulfat atau klorida pada boraks. Larutannya dalam air (3%) digunakan sebagai obat cuci mata yang dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung dan salep luka kecil. Tetapi bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada bekas luka luas, karena beracun bila terserap oleh tubuh (Winarno dan Rahayu, 1994).
Meskipun bukan pengawet makanan, boraks sering pula digunakan sebagai pengawet makanan. Boraks sering disalahgunakan untuk mengawetkan berbagai makanan seperti bakso, mie basah, pisang molen, siomay, lontong, ketupat dan pangsit. Selain bertujuan untuk mengawetkan, boraks juga dapat membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan memperbaiki penampilan makanan (Vepriati, 2007).
2.      Formalin
Formaldehid (HCOH) merupakan suatu bahan kimia dengan berat molekul 30,03 yang pada suhu kamar dan tekanan atmosfer berbentuk gas tidak berwarna, berbau pedas (menusuk) dan sangat reaktif (mudah terbakar). Bahan ini larut dalam air dan sangat mudah larut dalam etanol dan eter (Moffat, 1986).
Produsen sering kali tidak tahu kalau penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan tidaklah tepat karena bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bagi konsumen yang memakannya.  Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing menunjukkan bahwa pemberian formalin dalam dosis tertentu pada jangka panjang bisa mengakibatkan kanker saluran cerna. Penelitian lainnya menyebutkan peningkatan risiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan (Yuliarti, 2007).
Uap formalin sangat iritatif, dapat menyebabkan rasa yang menyengat dan rasa menusuk dalam hidung dan menyebabkan keluarnya air mata. Formalin sangat cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan dan juga paru-paru. Formalin yang masuk melalui saluran pernafasan menyebabkan bronkitis, pneumonitis, kerusakan ginjal, dan penekanan susunan saraf pusat (Groliman, 1962).
Efek formalin jika tertelan menyebabkan gangguan pencernaan, asidosis yang kuat, karena formalin dalam tubuh mengalami metabolisme menjadi asam formiat, karbondioksida, metanol, dan dalam bentuk metabolit HO-CH2 alkilasi (Theines dan Halley, 1955). Formalin juga dapat menyebabkan sakit perut, mual, muntah, diare, bahkan kematian jika dikonsumsi pada jumlah yang melewati ambang batas aman (Gazette, 2003).
Efek jangka pendek dari mengkonsumsi formalin antara lain terjadinya iritas pada saluran pernafasan, muntah-muntah, pusing, dan rasa terbakar pada tenggorokan. Efek jangka panjangnya adalah terjadinya kerusakan organ penting seperti hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat, dan ginjal (Lee, et all 1978).
Batas normal tubuh dapat menetralisir formalin dalam tubuh melalui konsumsi makanan adalah 1,5 sampai 14 mg setiap harinya. Mengkonsumsi secara terus menerus dan dalam skala cukup tinggi dapat menyebabkan mutasi genetik yang berakibat pada meningkatnya kemungkinan terkena kanker (Anonim, 2006). The United States Environmental Protection Agency (USEPA) yang merupakan salah satu badan perlindungan makanan dunia menetapkan nilai ADI (Acceptable Daily Intake) formalin sebesar 0,2 mg/kg berat badan.
3.      Rodamin B
Rhodamin B adalah zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, dan dalam larutan berwarna merah terang berfluorensi. Rhodamin B semula digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang berkembang untuk berbagai keperluan seperti sebagai pewarna kertas dan tekstil. Rhodamin B seringkali disalahgunakan untuk pewarna pangan dan pewarna kosmetik, misalnya sirup, lipstik, pemerah pipi, dan lain-lain. Pewarna ini terbuat dari dietillaminophenol dan phatalic anchidria dimana kedua bahan baku ini sangat toksik bagi manusia. Biasanya pewarna ini digunakan untuk pewarna kertas, wol, dan sutra (Djarismawati, 2004).
Rumus molekul dari rhodamin B adalah C28H31N2O3Cl dengan berat molekul sebesar 479.000. Sangat larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru- biruan dan berfluorensi kuat. Rhodamin B juga merupakan zat yang larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di dalam laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th, dan titik leburnya pada suhu 1650C (Devianti, 2009).
Zat pewarna berupa kristal-kristal hijau atau serbuk ungu kemerahan, sangat larut dalam air dengan warna merah kebiruan dan sangat berfluorensi. Rhodamin B dapat menghasilkan warna yang menarik dengan hasil warna yang dalam dan sangat berpendar jika dilarutkan dalam air dan etanol (Rohman, 2007).
Rhodamin B digunakan sebagai reagen untuk antimony, bismuth, tantalum, thallium, dan tungsten. Rhodamin B merupakan zat pewarna tekstil, sering digunakan untuk pewarna kapas wol, kertas, sutera, jerami, kulit, bambu, dan dari bahan warna dasar yang mempunyai warna terang sehingga banyak digunakan untuk bahan kertas karbon, bolpoin, minyak/oli, cat dan tinta gambar.
4.        Metil Yellow
Metanil yellow atau kuning metanil merupakan zat warnasintetis berbentuk serbuk, padat, berwarna kuning kecoklatan,bersifat larut dalam air dan alkohol, agak larut dalam benzen dan eter, serta sedikit larut dalam aseton. Metanil yellow merupakan senyawa kimia azo aromatik amin yang dapat menimbulkan tumor dalam berbagai jaringan hati,  kandung kemih, saluran pencernaan atau jaringan kulit.Metanil yellow dibuat dari asam metanilat dan difenilamin.
Metanil yellow merupakan pewarna tekstil yang sering disalah gunakan sebagai pewarna makanan. Saat ini banyak metanil yellow disalahgunakan untuk pangan, beberapa diantaranya, kerupuk, mie,gorengan, pangan jajanan berwarna kuning,dan banyak juga sebagai pewarna pada tahu. Ciri pangan dengan pewarna metanil yellow biasanya berwarna kuning mencolok dan cenderung berpendar, serta banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen (misalnya pada kerupuk).
Zat warna metanil yellow memiliki beberapa kelebihan yaitu dapat menghasilkan warna yang lebih kuat, lebih seragam, dan lebih stabil. Warna yang dihasilkan dari pewarna ini akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan. Selain itu,penggunaanya sangat efisien karena pemakaian dalam jumlah sedikit sudah memberikan warna yang cukup intensif Akan tetapi, jika pewarna tersebut terkontaminasi logamberat, maka akan sangat berbahaya.


B.            Alat, Bahan Dan Prosedur Pemeriksaan  Dengan 
1.             Alat , bahan dan Cara pemeriksaan Boraks pada makanan (Bakso)
a.         Alat
-          Pipet tetes wadah plastik
-          Labu takar
-          Cawan porselen
-          Cutter/pisau iris
-          Korek api
b.        Bahan
-          Sampel (bakso)
-          Larutan KMNO4
-          Larutan etanol
c.       Cara pemeriksaan
-          Mengambil larutan etanol yang ada pada labu takar dengan menggunakan pipet tetes
-          Meneteskan larutan tersebut pada bakso yang ada di cawan porselen
-          Bakso yang telah diberikan larutan etanol di bakar menggunakan korek api
-          Menunggu beberapa saat sambil mengamati perubahan yang terjadi, baik perubahan pada bakso maupun api yang membakar bakso tersebut
-          Mencatat hasil pengamatan berdasarkan pengamatan yang dilakukan
-          Sampel yang dibakar menimbulkan nyala api

2.             Alat, bahan dan Cara pemeriksaan Formalin pada makanan (Bakso)
a.         Alat
-          Pipet tetes
-           wadah plastik
-          Cawan porselen
-          Cutter/pisau iris
b.        Bahan
-          Sampel (bakso)
-          Larutan formaldehid
c.         Cara pemeriksaan
-          Potong-potong makanan hingga menjadi bagian-bagan kecil
-          Masukkan dalam cawan porselen
-          Mengambil larutan formalin dengan menggunakan pipet tetes
-          Meneteskan larutan formalin tersebut pada bakso yang ada di cawan porselen
-          Menunggu beberapa saat sambil mengamati perubahan yang terjadi baik perubahan pada bakso
-          Terjadi perubahan warna dari larutan formaldehid, yang sebelmunya berwarna ungu setelah beberapa saat berubah menjadi bening
-          Mencatat hasil pengamatan berdasarkan pengamatan yang dilakukan

3.             Alat, Bahan Dan Cara Pemeriksan Rodamin B pada sirup dan kue kukus
a.         Alat
-          Cawan petri
-          Spet
-          Mortal
-          Pipet tetes
-          Tabung reaksi & rak tabung reaksi
b.        Bahan
-          Pereaksi Rhodamin - B ( Test kit )
-          SampeSirup merah cap bintang
-          Kue kukus dengan warna merah terang
-          Air mineral
-          Kapas

c.         Cara kerja
-          Persiapkan sampel yang akan di periksa ( sirup merah dan kue kukus warna merah terang );
-          Sampel padat dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mortal;
-          Tambahkan sedikit air agar sampel menjadi lebih halus atau menjadi homogen dengan air;
-          Kemudian tuangkan masing-masing sampel ke dalam cawan petri;
-          Ambil air yang telah homogen dengan sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;( note : Tanpa ada padatannya )
-          Kemudian masukkan kedalam tabung reaksi;
-          Lalu tambahkan 10 – 20 tetes pereaksi I rhodamin - b ke dalam tabung reaksi tersebut secara hati – hati tetes demi tetes dan segera tutup botolnya;
-          Setelah itu tambahkan 5 tetes pereaksi II rhodamin – b;
-          Kemudian tambahkan 10 – 20 tetes pereaksi III rhodamin – b (gunakan pipet tetes yang ada);
-          Dikocok dengan hati – hati;
-          Jika terbentuk warna ungu (violet) pada lapisan atas, sampel positif mengandung rhodamin – b.

4.             Alat, Bahan Dan Pemeriksaan Metil Yellow sirup kuning
a.          Alat
-          Cawan petri
-          Spet
-          Tabung reaksi & rak tabung reaksi
b.        Bahan
-          Pereaksi methanil yellow( Test kit )
-          Sampel Sirup kuning
c.         Cara kerja
-          Persiapkan sampel yang akan di periksa ( sirup kuning );
-          Kemudian tuangkan sampel ke dalam cawan petri;
-          Ambil sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;
-          Lalu masukkan kedalam tabung reaksi;
-          Tambahkan pereaksi methanil yellow tetes demi tetes secara hati – hati, setelah itu tutup botolnya;Kocok secara hati – hati, amati perubahan yang terjadi;
-          jika terbentuk warna violet kecoklatan, sampel positif mengandung methanil yellow

C.           Bahaya Makanan Yang Mengandung Bahan Tambahan Makanan Berbahaya
Boraks yang dikonsumi manusia kemudian substansinya akan diserap oleh usus, lebih lanjut akan disimpan terus menerus secara kumulatif didalam hati, otak, ginjal, atau bahkan testis, hingga akhirnya dosis toksin yang berasal dari boraks semakin tinggi dalam tubuh.
Pada dosis penggunaan normal yang masih di bawah batas ambang maksimal, efek negatif racun boraks pada manusia masih hanya sebatas pada nafsu makan yang menurun, gangguan pada sistem pencernaan, gangguan sistem pernafasan. Selain itu juga dapat menyebabkan gangguan sistem saraf pusat ringan, seperti mudah bingung, gejala anemia, dan kerontokan rambut. Namun bila dosis toksin boraks sudah melebihi ambang batas maksimal, maka akan dapat mengakibatkan dampak yang fatal bagi kesehatan, mulai dari muntah-muntah, gejala diare, gejala sesak nafas, gejala kram perut dan gejala lain seperti nyeri perut bagian atas (epigastrik), seperti mual, lemas, pendarahan gastroentritis yang disertai muntah darah yang diiringi sakit kepala hebat. Bayi dan anak kecil bisa meninggal dunia hanya dengan dosis toksin boraks dalam tubuh yang telah mencapai lebih dari 5 gramn. Sementara pada orang dewasa, bisa berujug kematian jika toksin boraks telah mencapai 10 - 20 gram Read more at tips cara terbaik.
Formalin, seseorang bisa mengalami mual-mual, lalu muntah-muntah.Formalin bisa merusak organ pencernaan. Pada mulanya yang pertama akan muncul adalah terbakar di tenggorokan, sampai perut. Gejala lain mungkin akan membuat anda sulit menelan makanan. Diperparah lagi pendarahan dalam dan hilangnya kesadaran.
Efek formalin dalam jangka panjang akan sangat membahayakan bisa mengarah pada kematian bilamana seorang terpapar secara terus menerus. Jika masuk ke dalam tubuh, formalin bisa menyebabkan seorang mengalami kanker otak. Formalin juga merupakan zat karsinogenik yang sifatnya bisa menyebabkan tumbuhnya sel kanker
Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir mirip dengan sifat dari klorin yang berikatan dalam struktur rhodamin B. Penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya jika dikonsumsi adalah senyawa tersebut adalah senyawa yang radikal. Senyawa radikal adalah senyawa yang tidak stabil. Dalam struktur rhodamin kita ketahui mengandung klorin (senyawa halogen), sifat halogen adalah mudah bereaksi atau memiliki reaktivitas yang tinggi maka dengan demikian senyawa tersebut karena merupakan senyawa yang radikal akan berusaha mencapai kestabilan dalam tubuh dengan berikatan dengan senyawa-senyawa dalam tubuh kita sehingga pada akhirnya akan memicu kanker pada manusia .
Metanil Yellow merupakan senyawa kimia azo aromatik amin yang telah dilarang digunakan dalam pangan.Pewarna ini merupakan tumor promoting agent dan dapat menyebabkan kerusakan hati.Pewarna kuning metanil sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata, dan tertelan. Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan,iritasi pada kulit, iritasi pada mata, dan bahaya kanker pada kandung dan saluran kemih. Apabila tertelan dapat menyebabkan iritasi saluran cerna, mual, muntah, sakit perut, diare, demam, lemah, dan tekanan darah rendah.
BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Cara Pemeriksaan Boraks
-          Mengambil larutan etanol yang ada pada labu takar dengan menggunakan pipet tetes
-          Meneteskan larutan tersebut pada bakso yang ada di cawan porselen
-          Bakso yang telah diberikan larutan etanol di bakar menggunakan korek api
-          Menunggu beberapa saat sambil mengamati perubahan yang terjadi, baik perubahan pada bakso maupun api yang membakar bakso tersebut
-          Mencatat hasil pengamatan berdasarkan pengamatan yang dilakukan
-          Sampel yang dibakar menimbulkan nyala api
Cara Pemeriksaan Formalin
-          Potong-potong makanan hingga menjadi bagian-bagan kecil
-          Masukkan dalam cawan porselen
-          Mengambil larutan formalin dengan menggunakan pipet tetes
-          Meneteskan larutan formalin tersebut pada bakso yang ada di cawan porselen
-          Menunggu beberapa saat sambil mengamati perubahan yang terjadi baik perubahan pada bakso
-          Terjadi perubahan warna dari larutan formaldehid, yang sebelmunya berwarna ungu setelah beberapa saat berubah menjadi bening
-          Mencatat hasil pengamatan berdasarkan pengamatan yang dilakukan
Cara Pemeriksaan Rodhamin B
-          Persiapkan sampel yang akan di periksa ( sirup merah dan kue kukus warna merah terang );
-          Sampel padat dihaluskan terlebih dahulu menggunakan mortal;
-          Tambahkan sedikit air agar sampel menjadi lebih halus atau menjadi homogen dengan air;
-          Kemudian tuangkan masing-masing sampel ke dalam cawan petri;
-          Ambil air yang telah homogen dengan sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;( note : Tanpa ada padatannya )
-          Kemudian masukkan kedalam tabung reaksi;
-          Lalu tambahkan 10 – 20 tetes pereaksi I rhodamin - b ke dalam tabung reaksi tersebut secara hati – hati tetes demi tetes dan segera tutup botolnya;
-          Setelah itu tambahkan 5 tetes pereaksi II rhodamin – b;
-          Kemudian tambahkan 10 – 20 tetes pereaksi III rhodamin – b (gunakan pipet tetes yang ada);
-          Dikocok dengan hati – hati;
-          Jika terbentuk warna ungu (violet) pada lapisan atas, sampel positif mengandung rhodamin – b.
Cara Pemeriksaan Metil Yellow
-          Persiapkan sampel yang akan di periksa ( sirup kuning );
-          Kemudian tuangkan sampel ke dalam cawan petri;
-          Ambil sampel menggunakan spet sebanyak 1 ml;
-          Lalu masukkan kedalam tabung reaksi;
-          Tambahkan pereaksi methanil yellow tetes demi tetes secara hati – hati, setelah itu tutup botolnya;Kocok secara hati – hati, amati perubahan yang terjadi;
-          jika terbentuk warna violet kecoklatan, sampel positif mengandung methanil yellow

B.            Saran
Saran untuk para pembaca agar kiranya memperhatikan bahan dan pangan yang akan di olah sebelum di komsumsi, dan untuk memakan jajanan sebaiknya memperhatikan tempat dan area penjualan, namun akan lebih baiknya lagi untuk membuat sendiri agar meminimalisir resiko yang akan timbul nantinya.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012. Pengertian bakso dan cara membuat bakso, (online), http://www.geoklik.com/pengertian-bakso-dan-cara-membuat-bakso/290/.  Diakses tanggal 26/03/2018)
Anonim, 2013. Laporan praktikum uji formalin dan boraks pada bakso,  http://rachmitadewii.blogspot.co.id/2013/12. (Diakses tanggal 26/03/2018)
Anonim, 2016. Pemeriksaan Kandungan Boraks Pada Bakso Daging Sapi Di Kabupaten Pidie Jaya, http://www.jurnal.unsyiah.ac.id   (Diakses tanggal 26/03/2018)
Anonim, 2017. dengan judul Bahaya Formalin bagi Kesehatan http://jambi.tribunnews.com/2017/06/13/bahaya-formalin-bagi-kesehatan. (Diakses tanggal 28/03/2018)
Anonim, 2013. Laporan Hasil Pemeriksaan Formalin, Boraks, Rhodamin-B Dan Metanil Yellow http://udienz-ajaa.blogspot.co.id/2013/05/laporan-hasl-pemeriksaan-formalin.html  (Diakses 29/03/2018)

Komentar

  1. terima kasih,, sangat membantu dan memberi pengetahuan. dan bisa di jadikan referensi.

    BalasHapus
  2. Trima kasih atas informasinya. Saran saya sebaiknya cara bagimana menilai bahan makanan yang tercemar bahan tambahan pangan yang berbahaya dipaparkan juga dan standarnya berapa yang bisa dipergunakan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan logam berat pada makanan

PEMERIKSAAN SALMONELLA, VIBRIO CHOLERA, SIGHIELLA, DAN E.COLI PADA ES KELAPA MUDA